Langsung ke konten utama

Postingan

DARI HABIB RIZIEQ UNTUK UMMAT, DARI AGAMA SEBAGAI PENYAMBUNG LIDAH UMMAT

“Yang diwarisi ulama dari Nabi bukan hanya ilmunya, tapi akhlaknya, termasuk resiko dalam dakwahnya” (Habib Riziq Shihab) Front Pembela Islam (FPI) muncul saat demokrasi di Indonesia lagi mencari bentuk. Habib Riziq tampil jadi pemimpin yang mengobarkan kembali identitas Islam. Baik sebagai ideologi politik maupun dasar tatanan pemerintahan. Itu sebabnya kepedulianya pada problem moral terus didengungkan. Serangan pada kafe maupun tempat maksiat membuat FPI diklasifikasikan sebagai organisasi vigilante. Terlebih seranganya pada ide kebebasan beragama, toleransi hingga pruralisme menciptakan tuduhan buruk padanya. Dianggap mencemarkan Islam, dituduh tidak mengerti substansi ajaran Islam bahkan disebut sebagai gerakan yang didalangi oleh penguasa Orde Baru (Orba). Singkatnya FPI jadi tersangka untuk kegiatan yang mengabaikan nilai-nilai HAM. FPI seperti kutukan bagi sebuah sistem demokrasi. Tapi FPI bukan surut malah kian membesar. Meraih pengikut di Ibu Kota bukan melalui ceramah agama....

REZIM BERTAHAN KARENA SIKAP POSITIF PERSYARIKATAN

“Kita dapat mengukur kemiripan kita dengan Nabi dengan melihat kepekaan kita terhadap penderitaan sesama” (KH Ahmad Dahlan) Muhammadiyah tidak mendapat jatah menteri. Itulah berita Koran Tempo (24/12) yang menyengat. Ormas Agama raksasa ini nyaris tidak mendapatkan posisi berarti. Padahal dukungan pada pemerintahan sudah luar biasa: rumah sakitnya kini menjadi penampung pasien Covid-19, lembaga pendidikanya berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa dan sumbangan kemanusiaan yang diorganisir oleh badan amalnya bisa menekan angka kemiskinan. Ibaratnya Muhammadiyah sudah melakukan semua kerja pemerintahan tapi tidak ada imbalan yang berarti. Tentu ini kesimpulan yang sederhana, simpel dan pasti bermasalah karena memang Muhammadiyah bukan partai politik. Ormas agama ini punya tujuan lebih mulia ketimbang kursi politik. Peran sosialnya tidak tergantung pada rezim mana yang berkuasa dan tidak pula dari kursi politik yang mampu didudukinya. Bisa saja orang mengatakan ada banyak kader M...

PANDANGAN INI NYARIS MERATA: DAPUR, KASUR DAN SUMUR

Dalam suatu waktu perempuan itu menggerutu “Mas, rajin amat sih mau cuci piring sendiri, gak ada kerjaan lain apa?” Pertanyaan atau mungkin pujian itu dilontarkan teman atau kerabat terdekat saat melihat saya mencuci kotak tempat makan. Biasanya lontaran seperti itu akan memicu curhat colongan dari teman-teman utamanya mereka yang perempuan, terutama soal minimnya partisipasi pasangan mereka dalam urusan rumah tangga. “ Suamiku mana mau, Mas, bantu-bantu cuci piring kayak sampean,” ujar salah satu teman, yang diiyakan teman perempuan yang lain. Keluhan-keluhan itu muncul secara umum, tidak peduli latar belakang suku atau agama. “ Dalam tradisi keluarga istri, harusnya saya diberi hak istimewa untuk tidak terlibat dalam urusan dapur. Enaknya mereka yang mendapatkan suami dimana dia sangat jarang, bahkan dilarang, untuk terlibat dalam urusan di dapur dan juga mengurus rumah. Namun yang terjadi hari ini, m ertua akan menegur jika saya tidak mel ayani suami dengan baik dalam hal uru...

-PEREMPUAN TERTINDAS-

   Mari renungkan nasib yang di alami perempuan yang terlanjur di bangun secara kultural melalui wilayah persepsi sebagai makhluk lemah. Karena persepsi ini, di mana pun di muka bumi perempuan selalu dalam posisi kalah atau terkalahkan, alias dikuasai justru oleh sesama manusia, yaitu kaum laki laki. Perempuan di jadikan objek seksual saat kebutuhan biologis laki laki menggelora. Bahkan, saat kehabisan gelora, laki laki tetap saja berusaha agar tetap membara, biasanya melalui obat penguat biar perkasa. Situasi akan semakin dramatis bila lima laki laki sekaligus menggilir seorang perempuan secara paksa, persis seperti para bajingan yg di tayangkan metro tv di beritanya. Ketika menyaksikan perempuan ini tergolek tanpa daya, baik dengan atau tanpa darah segar di sekitar kemaluannya, kelima laki laki bangsat keparat laknat anjing ini menatap dengan puas. Betapa sempurnanya mereka sebagai laki laki yang gagah dan kuasa. Sebagai objek seksual laki laki, perempuan mesti menanggung ko...