SUMENEP adalah salah satu daerah di Jawa Timur yang memiliki kekuatan massa politik yang cukup besar. Sehingga tak jarang para politikus berkunjung ke para tokoh—yakni kiai—untuk meminta restu, atau lebih tepatnya memohon sebagai pendukungnya. Apalagi karena Sumenep memiliki doktrin “ngereng dhebuna keae”, maka penghormatan orang Sumenep kepada kiai melebihi dirinya. Tidak mengherankan, jika ada cerita-cerita orang Sumenep terdahulu, apabila sang kiai berucap, “cong, alla mangkat, sambih jherenah jiah (nak, sana berangkat, bawa kudanya),” maka spontan seorang murid (santri, red.) langsung bergegas berangkat dan kudanya dibawa. Yang bikin geleng-geleng kepala (mengherankan, red.), sang murid (santri, red.) tidak akan menaiki kudanya karena gurunya (kiai gurunya, red.) hanya mengucapkan sambih (bawa), bukan tompa’ (menunggangi). Tentu tidak ada salahnya, hanya terlalu tekstual. Ini bukti bahwa orang Sumenep tunduk apa kata kiai. Watak layaknya peliharaan...
Ketika kita berfikir hanya tentang keburukannya saja