Langsung ke konten utama

POLITIK IDENTITAS: IKATAN SANTRI YANG BERLEBIHAN?

SUMENEP adalah salah satu daerah di Jawa Timur yang memiliki kekuatan massa politik yang cukup besar. Sehingga tak jarang para politikus berkunjung ke para tokoh—yakni kiai—untuk meminta restu, atau lebih tepatnya memohon sebagai pendukungnya. Apalagi karena Sumenep memiliki doktrin “ngereng dhebuna keae”, maka penghormatan orang Sumenep kepada kiai melebihi dirinya.

Tidak mengherankan, jika ada cerita-cerita orang Sumenep terdahulu, apabila sang kiai berucap, “cong, alla mangkat, sambih jherenah jiah (nak, sana berangkat, bawa kudanya),” maka spontan seorang murid (santri, red.) langsung bergegas berangkat dan kudanya dibawa.

Yang bikin geleng-geleng kepala (mengherankan, red.), sang murid (santri, red.) tidak akan menaiki kudanya karena gurunya (kiai gurunya, red.) hanya mengucapkan sambih (bawa), bukan tompa’ (menunggangi). Tentu tidak ada salahnya, hanya terlalu tekstual. Ini bukti bahwa orang Sumenep tunduk apa kata kiai.

Watak layaknya peliharaan majikannya, sehingga religiusitas orang Sumenep tidak jarang dimanfaatkan oleh para politikus nasional dan lokal dengan jalan pintas melalui sang kiai. Problematiknya, perbedaan pilihan politik antar kiai satu dengan yang lain berpotensi membuat dikotomi politik, yang kemudian politik identitas dan etnisitas (politisasi identitas dan etnis, red.) terbentuk.

Apalagi ormasnya berbeda, sudah bisa dipastikan ormas satu merasa benar sendiri dan sebaliknya. Meski tidak semuanya demikian, ditambah dengan propaganda primordial identitas ideologi antara kelompok agamis dan nasionalis politik dikotomis semakin kentara. Padahal keduanya, secara subtansial dapat disintesakan ke dalam kelompok nasionalis-agamis.

Apabila flash back terhadap sejarah politik identitas, Nabi Muhammad dengan identitas kenabian dan dari etnis Bani Quraisy melekat pada dirinya sebagai cover ke-islam-an, baik dari sahabat maupun yang non Islam. Salah satu contohnya adalah kebijakan bait aqabah I dan II Nabi Muhammad s.a.w., yang menghimpun persaudaraan antar Islam dan non Islam dalam bingkai perdamaian yang terkodifikasi.

Selain itu, terdapat salah satu sejarah kaum Anshor terkemuka dari Bani Ka’ab bin Kharrajz yang mengusulkan Sa’ad bin Ubadah sebagai Khalifah Pertama setelah Rasulullah dan Abu Bakar dari kaum Quraisy, sebagaimana amanat Nabi Muhammad s.a.w. Suasana mencekam, bahkan nyaris peperangan. Hal ini tidak lain efek perbedaan pandangan politik dari dua etnis. Bedanya, mereka bukan berdasarkan kepentingan pribadi, melainkan demi kebesaran agama Islam.

Jika kita kontekstualisasikan ke dalam topik ini, politik identitas itu selalu ada dalam sejarah dan selalu menjadi faktor utama konflik antar etnis. Oleh sebab itu, hal ini wajib kita perangi. Setelah ditelusuri lebih mendalam melalui beberapa analisa yang mendalam terhadap fakta di Sumenep ini, dikotomi antar etnis itu dibentuk oleh elit dengan berbentuk berita hoax serta adu domba.

Problematika ini bisa diselesaikan dengan dua cara: (1) membumikan spirit demokrasi, dan (2) membudayakan pikiran kritis. Membumikan demokrasi, sama halnya dengan mangais kebersamaan yang dikikis oleh oknum. Jadi, tidak ada tawar dalam hal ini, selain merupakan warisan founding fathers.

Pikiran kritis merupakan mesin kehidupan. Bahkan, Descartes mengungkapkan postulat yang bunyinya begini: “cogito ergo sum”, manusia dikatakan wujud saat ia berpikir. Seolah-olah Descartes ingin mengatakan bahwa manusia yang berkeliaran itu sama halnya tidak ada, meski fisiknya tebal dan agak cokelat. Selaras dengan spirit pikiran kritis ini ialah firman Allah SWT. QS. Al-Hujurat Ayat (6) yang berbunyi:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Sebagai kelompok yang terkenal religiusitas, orang Sumenep seharusnya tidak lagi terjebak pada politik identitas yang dibuat-buat. Selain berbahaya, hal ini tidak sinkron dengan budaya gotong royong di Sumenep. Jika rumah saja bisa dipikul bersama-sama oleh orang Sumenep, mengapa kebersamaan dan persatuan dalam pluralitas tidak bisa?

Pada titik terdalam topik ini, politik etnisitas dan identitas bertolak dari eksternal orang Sumenep yang sebagian orang terkena jaring itu. Masyarakat Sumenep harus bisa membedakan ranah politik dan yang bukan, agar perbedaan pilihan politik tidak mengkristal menjadi konflik yang berkepanjangan. Namun, semua ini tidak akan tercapai sebelum pendidikan di Sumenep maju.


Ditulis oleh: Rifa'i, pemuda setengah insyaf yang mencla-mencle.


Sumber foto: Media morat-marit


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIMBINGAN TEKNIS INDEKS DESA 2025 di DESA POTERAN KECAMATAN TALANGO KABUPATEN SUMENEP

Pemdes Poteran. Dalam upaya meningkatkan kualitas data pembangunan desa, Pemerintah Desa Poteran, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Pengisian yang sebelumnya bernama IDM Indeks Desa Membangun kini dipersingkat menjadi Indeks Desa hasil daripada pemukhtahiran dan penyempurnaan dari Form Web Aplikasi yang sebelumnya bernama IDM. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan akurasi dan validitas data IDM sebagai dasar perencanaan pembangunan desa yang lebih tepat sasaran. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (10/6/2025) ini melibatkan berbagai elemen penting, seperti aparat desa, pendamping desa, serta perwakilan dari Kecamatan Talango. Acara dibuka secara resmi oleh kepala desa dan dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai konsep dan tujuan dari Indeks Desa Membangun. Rangkaian kegiatan mencakup tiga fokus utama, yakni sosialisasi IDM, pelatihan pengisian formulir IDM, dan pengawasan lapangan. Sosialisasi bertujuan untuk memberikan pemahaman ...

PELACUR: DI TEMPAT INI DAPAT MERDEKA?

Setiap kali aktivis dengan berani meneriakkan kesetaraan perempuan, masih ada beberapa sektor yang sering kali saya perhatikan justru “terpaksa” bungkam—salah satunya adalah para perempuan korban prostitusi. Saya sebut sebagai korban prostitusi karena, terlepas dari cara feminis liberal atau feminis postmodern mengglorifikasi hal ini, prostitusi atau perdagangan perempuan adalah tempat di mana relasi kuasa justru bekerja paling kejam dan sistematis. Saya sedang di Bali, di tempat ini, segala hal yang ditolak mati-matian oleh aktivis perempuan—pelecehan dan kekerasan seksual, hubungan tidak sehat yang menyakiti perempuan, dirampasnya kehormatan perempuan secara paksa bahkan sampai femicide (pembunuhan perempuan)—seakan-akan dilumrahkan terjadi. Karena semua itulah, mereka sering kali bungkam dan tidak tergabung dalam barisan utama perjuangan hak asasi perempuan. Pada 8 November 2020, saya berkesempatan mengunjungi salah satu rumah penginapan di jalan anyelir, Tabanan, Bali yang ka...

Musdesus Pembentukan Koperasi Merah Putih Desa Poteran, Langkah awal Kemandirian Desa

Talango, Poteran - Balai Desa Poteran menjadi pusat perhatian pagi ini, Selasa (20/5/2025), dengan digelarnya Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) yang fokus pada agenda pembentukan Koperasi Merah Putih. Acara yang dimulai tepat pukul 10.00 WIB ini dihadiri oleh berbagai elemen penting dari Desa Poteran, termasuk Kepala Desa beserta seluruh Perangkat Desa, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta perwakilan dari tingkat kecamatan. Kehadiran tim dari Kecamatan Talango Bapak Nur Habibi selaku camat beserta perangkat lainnya turut hadir dan aktif mengikuti jalannya musyawarah. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan informasi krusial mengenai Koperasi Merah Putih. Beliau menegaskan bahwa inisiatif pembentukan koperasi ini merupakan bagian dari program pemerintah yang saat ini tengah diimplementasikan secara nasional. Selain partisipasi aktif dari unsur pemerintahan desa dan kecamatan, Musdesus ini juga melibatkan berbagai komponen masyarakat Poteran. Tampak hadir para pendampin...