Langsung ke konten utama

Postingan

SEGALA YANG SEDERHANA PERLAHAN SIRNA

Kurang lebih 32 hari aku tinggal di desa, tepatnya di pulau Madura kab Sumenep, kec. Batang batang, Dusun Jandir. Lupa tanggal tapi ingat peristiwa, tiba-tiba waktu itu Sulaiman (untuk tidak menyebut nama aslinya) mengundangku datang ke rumahnya. Dengan waspada aku masuk. Perabotnya lebih banyak dari pada kamarku, di dalamnya ada meja tulis berlapis kaca, di bawah kaca terdapat gambar besar perempuan setengah telanjang. Ia kelihatan ramah. Matanya liar dan agak merah. Pakaiannya bersih dan berbau minyak wangi melati keraton, jelas aku hafal sekali sama bau minyak itu. Ia seorang pemuda ganteng, bertubuh tinggi, cekatan, tangkas, kuat, sopan, dan nampak selalu dalam keadaan berfikir. Di atas kursi yang tidak di duduki Sulaiman (sekali lagi untuk tidak menyebut nama asli), tergeletak sebuah majalah berlipat paksa. Nampaknya bekas di pergunakan ganjal kaki lemari atau meja. "Kau tak punya bacaan?, tanyaku. Ia duduk di kursinya lagi sambil menjawab dengan tawa tanpa suara. Giginya put...

KEMERDEKAAN HANYA OMONG KOSONG

Indonesia merdeka pada 17 Agustus tahun 1945. Setelah itu seluruh masyarakat dan bangsa ini merayakannya setiap tahun di tanggal yang sama. Dari peristiwa itu (saat dibacanya proklamasi kemerdekaan) sampai sekarang, maka sudah 76 tahun sudah usia bangsa Indonesia, selama itu pula kita merayakan kemerdekaan itu. Semua bersuka cita merayakan hari kemerdekaan ini. Ada pula yang sedikit berduka cita sembari merenung nasib bangsa dan rakyat Indonesia ke depan akan seperti apa dan bagaimana. Keduanya bercampur. Artinya, apakah kita selama ini (76 tahun) sudah benar-benar merdeka sebagai sebuah negara yang pernah dijajah? Fakta sejarah memang iya, sudah merdeka. Tetapi, ketika melihat realitas hari ini dan esoknya, dapat dipastikan semua orang yang sadar akan merasa ‘ragu’ untuk mengatakan kalau bangsa ini sudah benar-benar merdeka. Dan di setiap momentum 17 Agustus untuk tiap tahunnya seluruh rakyat seakan dibuat agar harus (kalau tidak mau disebut ‘dipaksa’) merayakan peristiwa kemerdekaan ...

Selendang Duka ?

Di larik larik aksaraku hujan mengantar rintik, ada rasa yang mencekam setiap kali 17 Agustus datang. Dalam robekan luka, tak habis kubertanya, mengapa selalu saja masih ada air mata, masih ada jeritan tangis anak bangsa, serupa anak kecil duduk termenung di gubuk tua tanpa harta dan tahta misalnya. Seperti orang buta berjalan, merabah dengan tangisan, aku terdiam menatap bulan sembari berucap 'kata siapa kita merdeka?'. Kini sajak-sajakku kembali telanjang tanpa busana di hadapanmu, menatap remang kemerdekaan yang kau rasakan, tahukah engkau? aku melihat selendang duka di tepi matamu, silaunya, memaksaku untuk tertawa. Garudaku, senja membias wajahmu, desir angin menebar senyummu, 17 Agustus telah datang menghampiri sayapmu yang penuh dengan tumpukan kutu kutu. Garudaku, dengan sajak ingin kukabarkan padamu, meski langit semalam indah, aku tak mampu memejamkan mata, karena cahaya istana terlihat semakin jauh. ___________________ Ditulis oleh: Rifa'i, magister Jomblo di...

JANCUK! KENAPA REZIM JADI SERBA BUGIL BEGINI?

  Dunia seperti apakah yang Anda huni sepuluh tahun terakhir ini? Ya, saya tahu Anda menguap mendengar pertanyaan ini. Semua tengah melayangkannya. Teman-teman Anda membandingkan foto mereka sepuluh tahun silam dan sekarang seakan dunia peduli. Mereka mengetik caption reflektif-introspektif untuk menunjukkan dalam satu dasawarsa terakhir mereka tak hanya kian piawai selfie. Tapi, mari kita tetap jajal pertanyaan klise ini. Kebetulan saya tahu cara yang tak terlalu klise untuk melakukannya. Bayangkan sebuah skenario. Dini hari awal tahun 2010, Anda koma. Anda sedang mencari kudapan dari lemari dan, naas, durian dari rak atas jatuh menimpa kepala Anda. Hari ini, setelah nyaris satu dekade penuh Anda terbaring di kasur, Anda tersadar. Sebagai pembaca yang getol, Anda kontan menggila memeriksa apa saja yang Anda lewatkan. Kata-kata kasar terbatin tak kunjung putus selagi Anda membuka internet. Apa yang menahan Anda tidak merapalnya keras-keras hanya kehadiran ibunda ...

DARI HABIB RIZIEQ UNTUK UMMAT, DARI AGAMA SEBAGAI PENYAMBUNG LIDAH UMMAT

“Yang diwarisi ulama dari Nabi bukan hanya ilmunya, tapi akhlaknya, termasuk resiko dalam dakwahnya” (Habib Riziq Shihab) Front Pembela Islam (FPI) muncul saat demokrasi di Indonesia lagi mencari bentuk. Habib Riziq tampil jadi pemimpin yang mengobarkan kembali identitas Islam. Baik sebagai ideologi politik maupun dasar tatanan pemerintahan. Itu sebabnya kepedulianya pada problem moral terus didengungkan. Serangan pada kafe maupun tempat maksiat membuat FPI diklasifikasikan sebagai organisasi vigilante. Terlebih seranganya pada ide kebebasan beragama, toleransi hingga pruralisme menciptakan tuduhan buruk padanya. Dianggap mencemarkan Islam, dituduh tidak mengerti substansi ajaran Islam bahkan disebut sebagai gerakan yang didalangi oleh penguasa Orde Baru (Orba). Singkatnya FPI jadi tersangka untuk kegiatan yang mengabaikan nilai-nilai HAM. FPI seperti kutukan bagi sebuah sistem demokrasi. Tapi FPI bukan surut malah kian membesar. Meraih pengikut di Ibu Kota bukan melalui ceramah agama....

REZIM BERTAHAN KARENA SIKAP POSITIF PERSYARIKATAN

“Kita dapat mengukur kemiripan kita dengan Nabi dengan melihat kepekaan kita terhadap penderitaan sesama” (KH Ahmad Dahlan) Muhammadiyah tidak mendapat jatah menteri. Itulah berita Koran Tempo (24/12) yang menyengat. Ormas Agama raksasa ini nyaris tidak mendapatkan posisi berarti. Padahal dukungan pada pemerintahan sudah luar biasa: rumah sakitnya kini menjadi penampung pasien Covid-19, lembaga pendidikanya berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa dan sumbangan kemanusiaan yang diorganisir oleh badan amalnya bisa menekan angka kemiskinan. Ibaratnya Muhammadiyah sudah melakukan semua kerja pemerintahan tapi tidak ada imbalan yang berarti. Tentu ini kesimpulan yang sederhana, simpel dan pasti bermasalah karena memang Muhammadiyah bukan partai politik. Ormas agama ini punya tujuan lebih mulia ketimbang kursi politik. Peran sosialnya tidak tergantung pada rezim mana yang berkuasa dan tidak pula dari kursi politik yang mampu didudukinya. Bisa saja orang mengatakan ada banyak kader M...

PANDANGAN INI NYARIS MERATA: DAPUR, KASUR DAN SUMUR

Dalam suatu waktu perempuan itu menggerutu “Mas, rajin amat sih mau cuci piring sendiri, gak ada kerjaan lain apa?” Pertanyaan atau mungkin pujian itu dilontarkan teman atau kerabat terdekat saat melihat saya mencuci kotak tempat makan. Biasanya lontaran seperti itu akan memicu curhat colongan dari teman-teman utamanya mereka yang perempuan, terutama soal minimnya partisipasi pasangan mereka dalam urusan rumah tangga. “ Suamiku mana mau, Mas, bantu-bantu cuci piring kayak sampean,” ujar salah satu teman, yang diiyakan teman perempuan yang lain. Keluhan-keluhan itu muncul secara umum, tidak peduli latar belakang suku atau agama. “ Dalam tradisi keluarga istri, harusnya saya diberi hak istimewa untuk tidak terlibat dalam urusan dapur. Enaknya mereka yang mendapatkan suami dimana dia sangat jarang, bahkan dilarang, untuk terlibat dalam urusan di dapur dan juga mengurus rumah. Namun yang terjadi hari ini, m ertua akan menegur jika saya tidak mel ayani suami dengan baik dalam hal uru...

-PEREMPUAN TERTINDAS-

   Mari renungkan nasib yang di alami perempuan yang terlanjur di bangun secara kultural melalui wilayah persepsi sebagai makhluk lemah. Karena persepsi ini, di mana pun di muka bumi perempuan selalu dalam posisi kalah atau terkalahkan, alias dikuasai justru oleh sesama manusia, yaitu kaum laki laki. Perempuan di jadikan objek seksual saat kebutuhan biologis laki laki menggelora. Bahkan, saat kehabisan gelora, laki laki tetap saja berusaha agar tetap membara, biasanya melalui obat penguat biar perkasa. Situasi akan semakin dramatis bila lima laki laki sekaligus menggilir seorang perempuan secara paksa, persis seperti para bajingan yg di tayangkan metro tv di beritanya. Ketika menyaksikan perempuan ini tergolek tanpa daya, baik dengan atau tanpa darah segar di sekitar kemaluannya, kelima laki laki bangsat keparat laknat anjing ini menatap dengan puas. Betapa sempurnanya mereka sebagai laki laki yang gagah dan kuasa. Sebagai objek seksual laki laki, perempuan mesti menanggung ko...