Langsung ke konten utama

ANDAI FAUZI dan KH. IMAM HASYIM BELAJAR FILSAFAT

Di alam semesta yang lain, mereka berdua sebagai calon Bupati kabupaten Sumenep mendalami filsafat. Mereka suka membaca buku, mereka suka berdiskusi tentang hal-hal penting di dalam kehidupan, menyangkut segala hal termasuk bebas pajak bagi kalangan tidak mampu dan kenaikan UMR bagi kaum buruh.  Mereka tidak hanya sibuk rapat tetapi juga suka menulis untuk membagikan pemikirannya. Di alam semesta itu, kita sebagai masyarakat Sumenep akan lebih tenang. Kita tak perlu merasa marah dan sakit hati di alam semesta kita, seperti sekarang di tahun 2024, di cuaca panas akibat alam rusak, kita tak perlu berdemo melawan penguasa buruk dan busuk. Di alam semesta itu, kita bisa merasa yakin akan kemajuan kabupaten kita. 

Andai mereka berdua belajar filsafat, mereka akan memiliki wawasan luas. Mereka bisa melihat segala hal dari beragam sudut pandang yang berbeda. Dari filsafat Yoga Sutra Patanjali di India kuno, Tao Te Ching di Cina kuno sampai Politeia di Yunani kuno, mereka akan memiliki visi yang mendalam dan luhur ke depan, tidak hanya untuk kabupaten Sumenep, tetapi untuk kehidupan dan alam secara keseluruhan. Nurani dan akal sehatnya akan terawat oleh filsafat. 

Andai mereka belajar filsafat, ia akan memiliki kesadaran sejarah. Dari Hegel si pemikir Jerman, mereka akan paham, bahwa sejarah adalah penjelmaan roh yang terus bergulir secara dialektis. Mereka akan menghargai sejarah. Ia tidak akan mengulangi kesalahan serupa yang sama bodohnya, dan membawa kabupaten Sumenep menuju kehancuran. Satu contoh yang memalukan, maraknya tambang ilegal dan penguasaan tanah oleh penguasa cina yang marak terjadi tanpa pengawasan dan kontrol secara ketat, misalnya. 

Andai mereka belajar filsafat, juga belajar dari Hegel, mereka akan paham dan menikmati dialektika. Mereka akan menikmati perbedaan pendapat sebagai upaya untuk mempertajam gagasan. Mereka tidak takut berdiskusi secara terbuka dengan masyarakat luas. Di alam semesta yang lain tersebut, mereka siap berdiskusi terbuka tidak hanya dengan pemuka agama dan akademisi kelas nasional, tetapi juga dengan generasi muda dan kaum petani. Bahkan, mereka akan menjadi penulis hebat dan dimana kesadaran dan akal sehat senantiasa dirawat. 

Andai mereka belajar filsafat, mereka akan menjadi pribadi yang lebih mendalam. Komentarnya akan lebih padat berisi. Logika berpikirnya lebih jernih dan lurus. Belajar dari Aristoteles sang bapak logika, hidupnya tidak dihantui ketakutan akan kehilangan kekuasaan, sehingga sepak terjangnya semakin tidak logis, seperti di alam semesta kita ini. Andai mereka berdua belajar filsafat, mereka akan membenci sikap feodal. mereka tidak akan gila hormat. Mereka tidak akan haus kuasa dan korup, ketika memegang jabatan. Dari para pemikir republikan, seperti Rousseau, Montesquieu dan Voltaire, mereka akan melihat manusia lain sebagai mahluk setara, karena martabat universal yang dipunyai oleh semua manusia. 

Andai mereka berdua belajar filsafat, mereka tidak akan haus kuasa. Belajar dari Nietzsche, dorongan alamiah manusia adalah kehendak untuk berkuasa. Mereka akan menyadari itu, dan mampu menyingkapinya dengan kritis. Badai kekuasaan akan menerpanya, namun ia bisa mengelak, dan bersikap dengan bijak. 

Andai mereka berdua belajar filsafat, ia akan mampu bersikap kritis pada dunia. Mereka tidak minder dengan para pemimpin lainnya, seperti para calon di kabupaten lainnya. Mereka tidak akan membela secara buta kelompok oligarki yang merugikan tanah leluhurnya, atau menuhankan investor hanya demi kepentingan tetapi merusak alamnya. Mereka akan membuat kabupaten Sumenep berdikari, yakni berdiri di atas kaki sendiri, seperti mimpi Soekarno dan mimpin kita sebagai gerasi muda. 

Andai mereka berdua belajar filsafat, mereka juga akan mampu bersikap kritis pada dunia. Sebagaimana dinyatakan oleh Immanuel Kant, seorang pemikir Jerman, akal budi manusia tertanam di dalam kesadaran diri. Dengan ini, manusia tidak hanya mampu mengamati pikiran maupun perasaannya sendiri, tetapi juga bisa menyadari kesadaran itu sendiri. Mereka akan lebih mampu mawas diri, dan tidak bersikap ugal-ugalan, seperti di alam semesta kita sekarang ini. 

Andai mereka berdua belajar filsafat, kebijakannya akan lebih bermutu. Belajar dari Kant tentang penggunaan akal budi secara publik, mereka akan menggunakan akal budi secara utuh dan penuh di dalam perumusan kebijakan. Ketika mendapat kritik, ia akan mendengar, dan siap berdialog dengan akal sehat. Mereka tidak akan membunuh perbedaan sudut pandang, dan bersikap otoriter. 

Andai mereka belajar filsafat, mereka akan lebih komunikatif. Mereka akan belajar dari Jürgen Habermas, bahwa permasalahan di masyarakat majemuk bisa dihadapi dengan tindakan komunikatif. Dalam arti ini, komunikasi adalah proses untuk mencapai pemahaman bersama lewat pembicaraan yang bersifat egaliter, rasional dan terbuka. Demokrasi akan jauh lebih sehat, sehingga keadilan dan kemakmuran untuk semua bisa diwujudkan. 

Secara keseluruhan, andai mereka berdua belajar filsafat, mereka akan lebih dewasa. Ada aura kedalaman di cara berpikir dan tindakannya. Ada keberanian dan kesediaan untuk berkorban, bukan untuk keluarga dan kerabatnya semata, tetapi untuk keseluruhan kenyataan. Ada sikap hormat dan rendah hati terhadap keagungan alam dan keluhuran kehidupan. 

Andai mereka belajar filsafat, di alam semesta yang berbeda, kabupaten Sumenep sudah mencapai masa emas sekarang ini. Keadilan dan kemakmuran akan dirasakan untuk semua. Kita akan menjadi bangsa dengan akal sehat dan nurani yang jernih. Kita akan menjadi contoh baik bagi kabupaten lain. 

Kembali ke alam semesta kita. Mereka sepertinya tak suka filsafat. Mereka cenderung takut pada pemikiran kritis dan terbuka. Mereka tak suka membaca, dan tak suka menulis. Ini jelas bertentangan dengan budaya para pendiri bangsa kita. Soekarno, Hatta, Sjahir dan Tan Malaka adalah para filsuf besar dengan wawasan intelektual serta sejarah yang sangat luas. Karya-karya asli mereka masih bisa kita nikmati sekarang ini. Di alam semesta kita, semua kacau. Politik jorok dan membuat mual. Ekonomi timpang dan berantakan total. Apakah sudah waktunya untuk melawan dengan revolusi baru? Revolusi tak bisa direncanakan. Namun, tak akan ada yang dapat melawan, ketika ia datang.

Ditulis oleh: Rifa'i, pemuda resah menyoal masa depannya

                                   Sumber foto: Pena Madura
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIMBINGAN TEKNIS INDEKS DESA 2025 di DESA POTERAN KECAMATAN TALANGO KABUPATEN SUMENEP

Pemdes Poteran. Dalam upaya meningkatkan kualitas data pembangunan desa, Pemerintah Desa Poteran, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Pengisian yang sebelumnya bernama IDM Indeks Desa Membangun kini dipersingkat menjadi Indeks Desa hasil daripada pemukhtahiran dan penyempurnaan dari Form Web Aplikasi yang sebelumnya bernama IDM. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan akurasi dan validitas data IDM sebagai dasar perencanaan pembangunan desa yang lebih tepat sasaran. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (10/6/2025) ini melibatkan berbagai elemen penting, seperti aparat desa, pendamping desa, serta perwakilan dari Kecamatan Talango. Acara dibuka secara resmi oleh kepala desa dan dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai konsep dan tujuan dari Indeks Desa Membangun. Rangkaian kegiatan mencakup tiga fokus utama, yakni sosialisasi IDM, pelatihan pengisian formulir IDM, dan pengawasan lapangan. Sosialisasi bertujuan untuk memberikan pemahaman ...

PELACUR: DI TEMPAT INI DAPAT MERDEKA?

Setiap kali aktivis dengan berani meneriakkan kesetaraan perempuan, masih ada beberapa sektor yang sering kali saya perhatikan justru “terpaksa” bungkam—salah satunya adalah para perempuan korban prostitusi. Saya sebut sebagai korban prostitusi karena, terlepas dari cara feminis liberal atau feminis postmodern mengglorifikasi hal ini, prostitusi atau perdagangan perempuan adalah tempat di mana relasi kuasa justru bekerja paling kejam dan sistematis. Saya sedang di Bali, di tempat ini, segala hal yang ditolak mati-matian oleh aktivis perempuan—pelecehan dan kekerasan seksual, hubungan tidak sehat yang menyakiti perempuan, dirampasnya kehormatan perempuan secara paksa bahkan sampai femicide (pembunuhan perempuan)—seakan-akan dilumrahkan terjadi. Karena semua itulah, mereka sering kali bungkam dan tidak tergabung dalam barisan utama perjuangan hak asasi perempuan. Pada 8 November 2020, saya berkesempatan mengunjungi salah satu rumah penginapan di jalan anyelir, Tabanan, Bali yang ka...

Musdesus Pembentukan Koperasi Merah Putih Desa Poteran, Langkah awal Kemandirian Desa

Talango, Poteran - Balai Desa Poteran menjadi pusat perhatian pagi ini, Selasa (20/5/2025), dengan digelarnya Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) yang fokus pada agenda pembentukan Koperasi Merah Putih. Acara yang dimulai tepat pukul 10.00 WIB ini dihadiri oleh berbagai elemen penting dari Desa Poteran, termasuk Kepala Desa beserta seluruh Perangkat Desa, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta perwakilan dari tingkat kecamatan. Kehadiran tim dari Kecamatan Talango Bapak Nur Habibi selaku camat beserta perangkat lainnya turut hadir dan aktif mengikuti jalannya musyawarah. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan informasi krusial mengenai Koperasi Merah Putih. Beliau menegaskan bahwa inisiatif pembentukan koperasi ini merupakan bagian dari program pemerintah yang saat ini tengah diimplementasikan secara nasional. Selain partisipasi aktif dari unsur pemerintahan desa dan kecamatan, Musdesus ini juga melibatkan berbagai komponen masyarakat Poteran. Tampak hadir para pendampin...