Di alam semesta yang lain, mereka berdua sebagai calon Bupati kabupaten Sumenep mendalami filsafat. Mereka suka membaca buku, mereka suka berdiskusi tentang hal-hal penting di dalam kehidupan, menyangkut segala hal termasuk bebas pajak bagi kalangan tidak mampu dan kenaikan UMR bagi kaum buruh. Mereka tidak hanya sibuk rapat tetapi juga suka menulis untuk membagikan pemikirannya.
Di alam semesta itu, kita sebagai masyarakat Sumenep akan lebih tenang. Kita tak perlu merasa marah dan sakit hati di alam semesta kita, seperti sekarang di tahun 2024, di cuaca panas akibat alam rusak, kita tak perlu berdemo melawan penguasa buruk dan busuk. Di alam semesta itu, kita bisa merasa yakin akan kemajuan kabupaten kita.
Andai mereka berdua belajar filsafat, mereka akan memiliki wawasan luas. Mereka bisa melihat segala hal dari beragam sudut pandang yang berbeda. Dari filsafat Yoga Sutra Patanjali di India kuno, Tao Te Ching di Cina kuno sampai Politeia di Yunani kuno, mereka akan memiliki visi yang mendalam dan luhur ke depan, tidak hanya untuk kabupaten Sumenep, tetapi untuk kehidupan dan alam secara keseluruhan. Nurani dan akal sehatnya akan terawat oleh filsafat.
Andai mereka belajar filsafat, ia akan memiliki kesadaran sejarah. Dari Hegel si pemikir Jerman, mereka akan paham, bahwa sejarah adalah penjelmaan roh yang terus bergulir secara dialektis. Mereka akan menghargai sejarah. Ia tidak akan mengulangi kesalahan serupa yang sama bodohnya, dan membawa kabupaten Sumenep menuju kehancuran. Satu contoh yang memalukan, maraknya tambang ilegal dan penguasaan tanah oleh penguasa cina yang marak terjadi tanpa pengawasan dan kontrol secara ketat, misalnya.
Andai mereka belajar filsafat, juga belajar dari Hegel, mereka akan paham dan menikmati dialektika. Mereka akan menikmati perbedaan pendapat sebagai upaya untuk mempertajam gagasan. Mereka tidak takut berdiskusi secara terbuka dengan masyarakat luas. Di alam semesta yang lain tersebut, mereka siap berdiskusi terbuka tidak hanya dengan pemuka agama dan akademisi kelas nasional, tetapi juga dengan generasi muda dan kaum petani. Bahkan, mereka akan menjadi penulis hebat dan dimana kesadaran dan akal sehat senantiasa dirawat.
Andai mereka belajar filsafat, mereka akan menjadi pribadi yang lebih mendalam. Komentarnya akan lebih padat berisi. Logika berpikirnya lebih jernih dan lurus. Belajar dari Aristoteles sang bapak logika, hidupnya tidak dihantui ketakutan akan kehilangan kekuasaan, sehingga sepak terjangnya semakin tidak logis, seperti di alam semesta kita ini.
Andai mereka berdua belajar filsafat, mereka akan membenci sikap feodal. mereka tidak akan gila hormat. Mereka tidak akan haus kuasa dan korup, ketika memegang jabatan. Dari para pemikir republikan, seperti Rousseau, Montesquieu dan Voltaire, mereka akan melihat manusia lain sebagai mahluk setara, karena martabat universal yang dipunyai oleh semua manusia.
Andai mereka berdua belajar filsafat, mereka tidak akan haus kuasa. Belajar dari Nietzsche, dorongan alamiah manusia adalah kehendak untuk berkuasa. Mereka akan menyadari itu, dan mampu menyingkapinya dengan kritis. Badai kekuasaan akan menerpanya, namun ia bisa mengelak, dan bersikap dengan bijak.
Andai mereka berdua belajar filsafat, ia akan mampu bersikap kritis pada dunia. Mereka tidak minder dengan para pemimpin lainnya, seperti para calon di kabupaten lainnya. Mereka tidak akan membela secara buta kelompok oligarki yang merugikan tanah leluhurnya, atau menuhankan investor hanya demi kepentingan tetapi merusak alamnya. Mereka akan membuat kabupaten Sumenep berdikari, yakni berdiri di atas kaki sendiri, seperti mimpi Soekarno dan mimpin kita sebagai gerasi muda.
Andai mereka berdua belajar filsafat, mereka juga akan mampu bersikap kritis pada dunia. Sebagaimana dinyatakan oleh Immanuel Kant, seorang pemikir Jerman, akal budi manusia tertanam di dalam kesadaran diri. Dengan ini, manusia tidak hanya mampu mengamati pikiran maupun perasaannya sendiri, tetapi juga bisa menyadari kesadaran itu sendiri. Mereka akan lebih mampu mawas diri, dan tidak bersikap ugal-ugalan, seperti di alam semesta kita sekarang ini.
Andai mereka berdua belajar filsafat, kebijakannya akan lebih bermutu. Belajar dari Kant tentang penggunaan akal budi secara publik, mereka akan menggunakan akal budi secara utuh dan penuh di dalam perumusan kebijakan. Ketika mendapat kritik, ia akan mendengar, dan siap berdialog dengan akal sehat. Mereka tidak akan membunuh perbedaan sudut pandang, dan bersikap otoriter.
Andai mereka belajar filsafat, mereka akan lebih komunikatif. Mereka akan belajar dari Jürgen Habermas, bahwa permasalahan di masyarakat majemuk bisa dihadapi dengan tindakan komunikatif. Dalam arti ini, komunikasi adalah proses untuk mencapai pemahaman bersama lewat pembicaraan yang bersifat egaliter, rasional dan terbuka. Demokrasi akan jauh lebih sehat, sehingga keadilan dan kemakmuran untuk semua bisa diwujudkan.
Secara keseluruhan, andai mereka berdua belajar filsafat, mereka akan lebih dewasa. Ada aura kedalaman di cara berpikir dan tindakannya. Ada keberanian dan kesediaan untuk berkorban, bukan untuk keluarga dan kerabatnya semata, tetapi untuk keseluruhan kenyataan. Ada sikap hormat dan rendah hati terhadap keagungan alam dan keluhuran kehidupan.
Andai mereka belajar filsafat, di alam semesta yang berbeda, kabupaten Sumenep sudah mencapai masa emas sekarang ini. Keadilan dan kemakmuran akan dirasakan untuk semua. Kita akan menjadi bangsa dengan akal sehat dan nurani yang jernih. Kita akan menjadi contoh baik bagi kabupaten lain.
Kembali ke alam semesta kita. Mereka sepertinya tak suka filsafat. Mereka cenderung takut pada pemikiran kritis dan terbuka. Mereka tak suka membaca, dan tak suka menulis. Ini jelas bertentangan dengan budaya para pendiri bangsa kita. Soekarno, Hatta, Sjahir dan Tan Malaka adalah para filsuf besar dengan wawasan intelektual serta sejarah yang sangat luas. Karya-karya asli mereka masih bisa kita nikmati sekarang ini.
Di alam semesta kita, semua kacau. Politik jorok dan membuat mual. Ekonomi timpang dan berantakan total. Apakah sudah waktunya untuk melawan dengan revolusi baru? Revolusi tak bisa direncanakan. Namun, tak akan ada yang dapat melawan, ketika ia datang.
Ditulis oleh: Rifa'i, pemuda resah menyoal masa depannya

Komentar
Posting Komentar
isi komentar dengan seradikal mungkin