Langsung ke konten utama

KEBAHAGIAAN PARA PEKERJA & BURUH

Lepas dari data-data bagus yang diterbitkan di koran-koran nasional, situasi ekonomi Indonesia tetap memprihatinkan. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin besar. Putaran uang hanya terfokus di kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Sementara mayoritas penduduk tidak mendapatkan akses terhadap putaran uang raksasa tersebut.


Para pengusaha kecil kesulitan bersaing dengan para pemilik modal besar. Mereka juga kesulitan bersaing dengan produk-produk asing yang membanjiri pasar Indonesia. Lulusan perguruan tinggi diminta untuk berwiraswasta di dalam situasi yang mencekik mereka. Padahal slogan pendidikan kewirausahaan seringkali hanya menjadi topeng untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah memberikan lapangan kerja yang memadai untuk rakyatnya.


Di sisi lain banyak orang merasa bersyukur, selama mereka masih memiliki pekerjaan, walaupun pekerjaan itu menyiksa nuraninya, dan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup minimal. Pada situasi semacam ini, masihkah relevan berbicara soal kebahagiaan pekerja, kebahagiaan para buruh?


Konkretnya begini. Pekerja yang bahagia bekerja lebih rajin, daripada pekerja yang tidak bahagia. Mereka akan datang tepat waktu, bahkan sebelum jam kerja dimulai. Mereka tidak gampang berhenti dari pekerjaan, atau berpindah perusahaan. Ketika diminta menjalankan tugas, mereka melakukannya sesuai tugas, bahkan lebih. Mereka menjadi semacam magnet yang menarik orang-orang seperti mereka untuk bergabung ke dalam perusahaan.


Pertanyaan kritisnya disini adalah, apa yang dimaksud sebagai pekerja, atau buruh, yang bahagia? Jelas pekerja yang bahagia bukan hanya pekerja yang tenang, setidaknya bukan hanya tenang. Mengapa? Karena orang yang tenang biasanya malas berpikir, sehingga kemampuannya tidak berkembang. Berdasarkan penelitiannya Spreitzer dan Porath menemukan, bahwa kebahagiaan pekerja tidak terletak pada ketenangan, melainkan pada kesempatannya untuk berkembang.


Di dalam lingkungan kerja yang memungkinkannya berkembang, orang tidak hanya puas, kreatif, dan produktif di dalam bekerja, ia juga mengambil bagian dalam menciptakan masa depan perusahaan atau organisasinya. Bisa dibilang bahwa masa depan perusahaan atau organisasi terkait erat dengan masa depan pribadinya sebagai manusia. Mereka bekerja dengan antusiasme dan semangat tinggi, karena mereka merasa sedang menciptakan masa depannya sendiri.


Ada dua tanda bagi perkembangan diri, sebagaimana dirumuskan oleh Spreitzer dan Porath. Yang pertama adalah vitalitas diri, yakni perasaan penuh semangat, hidup, dan antusias di dalam bekerja. Perasaan semacam ini menular ke orang-orang lainnya. Salah satu cara untuk membangkitkan vitalitas adalah dengan menyatakan kepada pekerja, bahwa yang mereka lakukan sehari-hari, walaupun kecil, tetap memberikan pengaruh besar pada perusahaan secara khusus, maupun kepada masyarakat secara umum.


Yang kedua adalah tersedianya ruang untuk belajar. Orang-orang yang berkembang adalah orang-orang yang memiliki kehendak dan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan maupun keahlian baru. Di sisi lain sikap mau untuk belajar, dan adanya kesempatan untuk itu, bisa menciptakan apa yang disebut sebagai lingkaran keutamaan, di mana orang-orang yang mampu mengembangkan dirinya akan memiliki kepercayaan, bahwa dia, dan orang lain, akan mampu berkembang melampaui kemampuannya yang sebelumnya.


Dua hal ini menjadi tanda, bahwa orang itu berkembang. Dan orang yang mampu berkembang adalah orang yang berbahagia. Juga perlu diperhatikan bahwa dua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Vitalitas tak bisa dipisahkan dari kemampuan dan kesempatan untuk belajar. Belajar tidak bisa dipisahkan dari semangat. Belajar tanpa semangat biasanya akan patah di tengah jalan.


Di sisi lain jika orang hanya punya semangat dan antusiasme, namun tak memiliki kesempatan untuk belajar, ia akan merasa terjebak melakukan hal-hal yang sama secara berulang, tanpa pernah mengalami perkembangan. Pada akhirnya ia menjadi mesin. Vitalitas hidupnya pun akan berkurang, bahkan hilang sama sekali. Kombinasi antara vitalitas dan kemauan/kesempatan untuk belajar akan mendorong orang bekerja demi mencapai hasil, serta mengembangkan diri maupun perusahaannya.


Motivasi kerja bukan lagi sekedar mendapatkan uang untuk mempertahankan hidup, melainkan karena bekerja memberikan makna maupun tujuan bagi hidup mereka. Di dalam semua proses itu, para pekerja akan merasa bersemangat, antusias, berkeinginan untuk terus belajar, berkembang, dan merasa bahagia. Semua keutamaan itu akan menular, dan menjadi budaya organisasi. Pada titik ini keuntungan finansial dan keuntungan sosial akan mengalir deras.


______________________________

Ditulis oleh: Rifa'i, pemuda keras kepala menyoal masa depan yang terombang ambing.


                                   Sumber foto: Kontan.co.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIMBINGAN TEKNIS INDEKS DESA 2025 di DESA POTERAN KECAMATAN TALANGO KABUPATEN SUMENEP

Pemdes Poteran. Dalam upaya meningkatkan kualitas data pembangunan desa, Pemerintah Desa Poteran, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Pengisian yang sebelumnya bernama IDM Indeks Desa Membangun kini dipersingkat menjadi Indeks Desa hasil daripada pemukhtahiran dan penyempurnaan dari Form Web Aplikasi yang sebelumnya bernama IDM. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan akurasi dan validitas data IDM sebagai dasar perencanaan pembangunan desa yang lebih tepat sasaran. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (10/6/2025) ini melibatkan berbagai elemen penting, seperti aparat desa, pendamping desa, serta perwakilan dari Kecamatan Talango. Acara dibuka secara resmi oleh kepala desa dan dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai konsep dan tujuan dari Indeks Desa Membangun. Rangkaian kegiatan mencakup tiga fokus utama, yakni sosialisasi IDM, pelatihan pengisian formulir IDM, dan pengawasan lapangan. Sosialisasi bertujuan untuk memberikan pemahaman ...

PELACUR: DI TEMPAT INI DAPAT MERDEKA?

Setiap kali aktivis dengan berani meneriakkan kesetaraan perempuan, masih ada beberapa sektor yang sering kali saya perhatikan justru “terpaksa” bungkam—salah satunya adalah para perempuan korban prostitusi. Saya sebut sebagai korban prostitusi karena, terlepas dari cara feminis liberal atau feminis postmodern mengglorifikasi hal ini, prostitusi atau perdagangan perempuan adalah tempat di mana relasi kuasa justru bekerja paling kejam dan sistematis. Saya sedang di Bali, di tempat ini, segala hal yang ditolak mati-matian oleh aktivis perempuan—pelecehan dan kekerasan seksual, hubungan tidak sehat yang menyakiti perempuan, dirampasnya kehormatan perempuan secara paksa bahkan sampai femicide (pembunuhan perempuan)—seakan-akan dilumrahkan terjadi. Karena semua itulah, mereka sering kali bungkam dan tidak tergabung dalam barisan utama perjuangan hak asasi perempuan. Pada 8 November 2020, saya berkesempatan mengunjungi salah satu rumah penginapan di jalan anyelir, Tabanan, Bali yang ka...

Musdesus Pembentukan Koperasi Merah Putih Desa Poteran, Langkah awal Kemandirian Desa

Talango, Poteran - Balai Desa Poteran menjadi pusat perhatian pagi ini, Selasa (20/5/2025), dengan digelarnya Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) yang fokus pada agenda pembentukan Koperasi Merah Putih. Acara yang dimulai tepat pukul 10.00 WIB ini dihadiri oleh berbagai elemen penting dari Desa Poteran, termasuk Kepala Desa beserta seluruh Perangkat Desa, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta perwakilan dari tingkat kecamatan. Kehadiran tim dari Kecamatan Talango Bapak Nur Habibi selaku camat beserta perangkat lainnya turut hadir dan aktif mengikuti jalannya musyawarah. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan informasi krusial mengenai Koperasi Merah Putih. Beliau menegaskan bahwa inisiatif pembentukan koperasi ini merupakan bagian dari program pemerintah yang saat ini tengah diimplementasikan secara nasional. Selain partisipasi aktif dari unsur pemerintahan desa dan kecamatan, Musdesus ini juga melibatkan berbagai komponen masyarakat Poteran. Tampak hadir para pendampin...